Pada awal ceritanya, Al Ka'bah Al musyarrofah adalah suatu kehormatan yang diupayakan oleh para raja para pangeran dan para pembesar Sejak jaman dahulu kala hingga saat ini.
Memang tidak ada bukti yang otentik dan yang paling kuat tentang hal ini selain firman Allah SWT sebagaimana yang tertulis dalam Alquran surat Ali Imron ayat 96 - 97.
Yang artinya: (96) sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk tempat beribadah manusia ialah Baitullah yang berada di Bakkah / makkah yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia seluruh alam. (97) disana terdapat tanda-tanda yang jelas diantaranya maqom Ibrahim dan seterusnya.
Ayat tersebut sekaligus untuk membantah dan counter pendapat para ahli kitab yang menyatakan bahwa rumah ibadah yang pertama dibuat adalah yang terdapat di Baitul Maqdis. oleh karena itu maka dengan menurunkan ayat ini yang di dalamnya terdapat tanda-tanda yang nyata diantaranya maqom ibrohim yaitu tempat berpijak di kala Nabi Ibrahim Alaihissalam berdiri membangun Ka'bah tersebut. bahwa sampai saat ini para jamaah haji dan umroh dan siapa saja yang datang ke sana dapat melihat bekas jejak kaki nabi Ibrahim Alaihissalam itu yang dalam bahasa Jawa disebut petilasan atau bekas kaki dan bergambar bekas kaki Nabi Ibrahim Alaihissalam.
Kisah Kiswah Ka'bah adalah salah satu fenomena terpenting dari perhatian dan penghormatan terhadap Baitullah al-haram seolah-olah sejarah adalah seolah-olah sejarah Ka'bah itu sendiri karena dari berbagai sumber sejarah yang ada mengisyaratkan bahwa Ismail Alaihissalam adalah orang pertama yang pemasangan kiswah Ka'bah walau Ada pendapat yang mengatakan bahwa Adnan Bin Id kakek nabi Muhammad SAW adalah orang pertama yang memasangg kelambu di ka'bah akan tetapi pendapat ini juga terbantahkan oleh akurasi dan bukti dalam buku-buku dan kitab sejarah dan biografi yang mengatakan bahwa orang yang pertama mengelambui Ka'bah adalah Taba' abu Karb As'ad Raja Himyar yakni dengan argumentasi bahwa Taba' menyerbu yatsrib sekitar 220 tahun sebelum hijrahnya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam ke Madinah dan Ibnu Hisyam dalam bukunya menyebutkan bahwa ketika raja Himyar meninggalkan Yatsrib dia memasuki Kota Mekah dan lalu dia melakukan di sekeliling Baitullah dan memangkas rambutnya serta lalu tinggal di sana selama beberapa hari.
Dalam tidurnya Taba' bermimpi bahwa dia mengelambui Kakbah Baitullah maka ketika ia terbangun maka dilaksanakannya mimpi itu dia mengelambui Ka'bah Baitullah itu dengan alkasaf (bahan pakaian kasar dari daun daunan dan serat serat pelepah pohon kurma).
Kemudian di hari berikutnya dia tidur lagi dan dalam tidurnya dia bermimpi lagi bahwa dia mengelambui Ka'bah dengan yang lebih baik lagi itu Yakni dengan mengganti kelambu yang sudah dipasang dengan bahan yang lebih baik lagi yaitu dari bahan pakaian Ma'aamiziyah yang dinisbatkan (seolah olah) kepada kabilah Ma'aziah di negeri Yaman.
Di hari berikutnya beliau bermimpi lagi untuk yang ketiga kalinya bahwa beliau lebih baik lagi maka ketika bangun juga dilaksanakan mimpi itu Yakni dengan mengganti lagi kain kelambu yang sudah dipasang tadi dengan yang lebih baik lagi yaitu dengan bahan yang lebih lembut dan tipis dan dalam satu rajutan dan dalam bentuk satu potong yang kemudian dinamai Al Malaa' atau Al Rabthah dan bahan pakaian berwarna merah bergaris-garis dari negeri Yaman yang disebut dengan sebutan Al Washaa'il, maka akhirnya di kemudian waktu dan kemudian hari selanjutnya orang-orang mulai memasang kelambu di Ka'bah Baitullah dan kemudian mereka menghadiahkan berbagai kiswah (kelambu) untuk Sabah lalu mereka pasang secara bertumpuk-tumpuk yang satu di atas yang lain yang lebih dulu dipasang dan setiap kali 1 Kelambu Ka'bah itu ada yang usang maka mereka pasang lagi yang baru sebagai pengganti kelambu yang usang tadi.
Begitulah awal mula sejarah pemasangan kiswah atau kelambu Ka'bah Baitullah yang akhirnya membudaya sampai sekarang yang setiap tahun Insya Allah di antara tanggal 10 Dzulhijjah dimana para jamaah haji satu itu berada dimana dalam rangka melempar jumroh dan mabit. kidwah ini cara yang mirip dan hampir sama dengan cara-cara dalam sejarah tadi Kiswah yang lama dilepas dan diganti dengan yang baru dan kemudian dilepas pelan-pelan untuk melepas yang lama.
Untuk lebih jelasnya maka usaha akan melihat sendiri secara langsung dengan datang ke sana atau melihat melalui pesawat televisi sebagai rahmat Allah Subhanahu Wa Ta'ala kepada umatnya agar dapat melihat sesuatu yang jauh dari jangkauan kita tetapi Allah menjadikannya dekat di mata.
Inna fii dzalika laaayaatil liqoumiyyatafakkaruun. Wallaahu Qodir, Wallaahu A'lam. Shodaqallahul Adziim. Allahumma sholli Ala Muhammad, wa'alaa Ali Muhammad.
