about

Kragan – Pria yang satu ini berasal dari keluarga Tionghoa. Karena semasa kecilnya sering mengintip orang mengaji di mushola, ia memutuskan masuk agama Islam. Selain menjadi guru SMP, hidayah Allah SWT mengantarkannnya sebagai seorang pendakwah terkenal. Siapa dia dan lebih suka mana, antara profesi guru dan da’i ? berikut liputan Wahyu Adi, dalam segmen Cahaya Ramadan.

Saat berada di perbatasan desa Plawangan dan Pandangan Kulon Kec. Kragan, hampir tidak ada seorangpun yang tahu, ketika kami mencoba bertanya dengan warga, dimana rumah Ingsiong. Tapi begitu menanyakan kediaman Muhammad Ektono, banyak orang tahu, seraya langsung menunjukkan sebuah rumah di sebelah utara Pasar Pandangan.

Ingsiong adalah nama kecil Muhammad Ektono, karena berasal dari keluarga Tionghoa. Tapi semenjak masuk agama Islam saat usianya masih 14 tahun, nama Ingsiongpun perlahan lahan tenggelam. Muhammad Ektono bercerita awal mula perjalanan spiritual itu terjadi ketika sering bermain bersama anak anak muslim. Dikala mereka mengaji pada sore hari, Ingsiong hanya bisa mengintip di luar mushola, sambil mendengarkan.

Suatu hari, Ingsiong menyampaikan niatnya untuk memeluk agama Islam. Memang sempat memperoleh tentangan keluarga, namun perlahan tapi pasti, dirinya bisa meyakinkan bahwa keputusan yang diambil sudah bulat.

Selama dua tahun memperdalam agama Islam, hingga pada tahun 1977, berdakwah di Masjid Kragan untuk kali pertama. Kebetulan respon jemaah cukup bagus, nama Ektono terus meroket. Pernah mengisi ceramah di Jakarta, Jawa Barat dan belakangan jadwal tetapnya ke sejumlah daerah di Jawa Timur semakin padat. Bahkan VCD rekaman ceramah Muhammad Ektono banyak dijual bebas.

Tidak hanya bicara di depan umat, pria berusia 52 tahun ini juga merangkap sebagai guru di SMPN I Kragan. Kerap kali orang salah mengira, Ektono mengampu mata pelajaran pendidikan agama. Padahal sudah lama memegang Mapel Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN), sesuai dengan basic pendidikannya Sarjana Hukum.

Soal membagi waktu, ia menganggap tidak masalah, lantaran jadwal pengajian mayoritas berlangsung malam hari. Ektono mengaku masih punya mimpi yang belum terwujud, yakni mendirikan semacam pondok pesantren bagi anak yatim piatu. Angan angannya satu, ingin membahagaiakan mereka sekaligus memberikan harapan masa depan lebih baik.

Kalau disuruh memilih, enak mana menjadi guru atau mubaligh ? pria tiga anak tersebut menjawab sama sama enaknya.

Dua profesi itu menyimpan kenikmatan. Ia menyebut nikmat dunia dan bekal untuk akhirat kelak.

- See more at: http://radior2b.com/2013/07/19/berkah-mengintip-mimpi-dirikan-pondok-yatim-piatu/#sthash.Pfls0qF4.dpuf
Disqus Comments